Kongres dan Peristiwa Pembusukan Politik HMI

Oleh: Abil Arqam (Direktur Utama LAPMI Sinergi)

Kongres HMI ke-33 sebagai forum tertinggi organisasi akan digelar di Bandar Lampung akhir 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kongres tak lebih dari arena adu mulut dan fisik yang tak membawa manfaat apa-apa bagi kader bawah seperti saya. Hal yang paling mudah diingat dari kongres-kongres sebelumnya justru video kerusuhan dan kekacauannya saja.

Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa forum ini sangat penting. Kongres sejatinya adalah tempat bermuaranya berbagai gagasan tentang ke mana organisasi ini akan dibawa dan siapa yang akan ditunjuk jadi juru kemudi. Akankah berlayar sesuai yang termaktub dalam Tujuan HMI, atau malah karam dan terdampar di tempat lain?

Di masa-masa mendekati kongres, berbagai pertanyaan menyeruak di benak saya. Mengapa forum yang seharusnya penting ini seakan kehilangan sakralitasnya? Mengapa forum yang mestinya jadi tempat pertarungan ide dan gagasan menjelma gelanggang baku pukul dan aksi saling lempar kursi? Apa yang membuatnya jadi sedemikian banal, eksklusif, dan seperti tak membawa dampak apa pun bagi kader-kader bawah?

Siapa Mewakili Siapa?

Apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama diadakannya kongres? Pertanyaan ini tentunya harus dijawab lebih dulu agar menjadi tolok ukur ideal penyelenggaraan forum tersebut.

Kongres berasal dari bahasa Latin, congressus, berarti pertemuan—baik dalam situasi persahabatan maupun permusuhan—yang sifatnya perwakilan. Merujuk istilah ini, kongres adalah pertemuan resmi para utusan dari sekumpulan orang untuk mencapai kesepakatan bersama.

Bila HMI menggunakan kata ‘kongres’ untuk menyebut forum tertingginya, ajang ini artinya menjadi pertemuan wakil-wakil para kader dari tiap daerah atau cabang. Segala ide, gagasan, dan aspirasi dari tiap cabang akan disampaikan dalam forum ini. Luarannya adalah dokumen bertajuk “Hasil-Hasil Kongres HMI” yang berisi aturan dan pedoman keorganisasian.

Lantas pertanyaannya, apakah perwakilan tersebut benar-benar dijalankan? Sudahkah para wakil menyerap aspirasi mereka yang diwakili? Kepentingan siapakah yang sebenarnya sedang diperjuangkan?

Kongres Dibajak Parpol

Benarkah para ketua umum cabang yang hadir dalam kongres mewakili suara-suara kader? Ini pertanyaan yang sebetulnya rumit untuk dijawab. Secara de jure kita bisa mengiyakan, karena suara ketua adalah suara mereka yang ia pimpin. Namun, secara de facto para peserta kongres, entah itu utusan cabang maupun kandidat ketua PB HMI, sering kali adalah bidak yang mewakili kepentingan patronnya. Yang saya sebut sebagai patron di sini adalah tokoh-tokoh partai politik.

Jika mengamati konten homeless media HMI belakangan ini (lihat postingan Feed Instagram @KongresHMILampung), kita akan melihat sentilan terhadap deretan tokoh politik yang berada di balik bursa calon ketua umum PB HMI. Umumnya tokoh-tokoh ini adalah alumni HMI yang kini jadi kader partai. Ada juga yang bukan alumni HMI, namun punya pengaruh kuat di kancah politik nasional. Keberadaan mereka ini mempertegas kenyataan bahwa Kongres HMI tak pernah steril dari politik transaksional yang meminggirkan kepentingan organisasi itu sendiri.

Dinamika politik transaksional ini bisa kita lihat melalui pemikiran James C. Scott yang dalam artikel berjudul Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia (1972) mengenalkan istilah patron-client relationship atau hubungan patron-klien. Kerangka ini semula dipakai Scott untuk membaca relasi agraris di perdesaan Asia Tenggara atas pertukaran perlindungan dan sumber daya dengan loyalitas politik. Scott melihat adanya aspek saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang kedudukannya tidak setara secara sosio-politis—pihak yang paling tinggi disebut patron, sedangkan yang rendah disebut klien.

Pada lanskap Kongres HMI, patronnya adalah tokoh-tokoh partai politik yang berkepentingan mengamankan kendali, legitimasi, dan pengaruh atas HMI. Sedangkan, para ketua atau utusan cabang yang punya hak suara penuh dan legitimasi formal HMI adalah kliennya. Mereka mendapatkan untung berupa logistik, jaminan karier, dan jabatan dari sang patron.

Kandidat-kandidat ketua umum Pengurus Besar (PB) HMI, dalam hal ini punya posisi yang unik. Mereka adalah klien bagi partai politik, tetapi di saat yang bersamaan juga merupakan patron bagi utusan-utusan cabang. Dari sini kita bisa melihat hubungan patron-klien yang berlapis (multi-layered) dalam perhelatan Kongres HMI.

Karenanya, alih-alih menjadi gelanggang konsolidasi arah dan kepemimpinan organisasi, Kongres HMI beralih bentuk menjadi pasar bebas kepentingan dan panggung teatrikal penuh emosi.

Pembusukan Politik HMI

HMI memang menyiapkan kadernya untuk menjadi para pemimpin, sehingga kecakapan dalam berpolitik menjadi kebutuhan yang mendasar. Hubungan mesra antara HMI dengan kekuasaan yang telah terjalin sekian lama tentunya tidak akan ada tanpa kemahiran dan kecakapan kader-kadernya ihwal politik. Kendati demikian, ada persoalan mendasar yang perlu dipertegas dalam membicarakan hal ini: politik macam apa yang semestinya dihayati oleh kader-kader HMI?

Politik sejatinya bukanlah barang kotor yang penuh tipu daya seperti pandangan awam saat ini. Politik adalah sebuah arena tempat warga atau anggota suatu komunitas membicarakan kepentingan umum dan memperjuangkan kesejahteraan bersama. Politik akan menjadi mulia ketika ia diisi oleh pertukaran gagasan tentang apa yang disetujui sebagai kepentingan bersama. Sebaliknya, ketika yang diadu di dalamnya adalah kepentingan segelintir orang, politik akan menjadi arena yang kotor dan penuh kebusukan.

Apa yang dipertontonkan dalam perhelatan Kongres HMI di tahun-tahun sebelumnya adalah bentuk pembusukan politik. Sebab, ia tak lagi dihayati sebagai ikhtiar memperjuangkan arah dan tujuan organisasi, namun menyusut menjadi transaksi dan negosiasi kepentingan berupa uang, jabatan, dan kekuasaan.

Kendati masih menjalankan ritual politik secara teknis dan prosedural, ruh pertarungan ide dan gagasan dalam kongres telah mati. Hal inilah yang kemudian memicu berbagai bentuk kerusuhan di dalamnya. Perlu digarisbawahi, situasi rusuh ini bukanlah cerminan dari gejolak pemikiran dan militansi kader. Sebaliknya, ia hadir justru karena ide dan gagasan telah habis dibabat kepentingan segelintir orang.

…

Selama 5 tahun menjadi kader HMI, saya tak pernah merasa bahwa kongres ada untuk membicarakan kepentingan HMI dan kader bawah seperti saya. Kongres seakan-akan ditahbiskan untuk dimiliki segelintir elite HMI dengan kepentingannya masing-masing, seperti yang barangkali akan kita saksikan di Bandar Lampung nanti.

Sampai di titik ini, masih mungkinkah tercipta ruang lain tempat kita membicarakan HMI yang lebih murni dari tarik ulur kepentingan elite belaka? Ruang yang jauh dari bau busuk ambisi, emosi, dan libido segelintir orang: para pengobral harga diri dan harkat martabat organisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *