Dalam tulisannya, Kamalul Khair membedah UU Reforma Agraria yang digadang-gadang menjadi jawaban atas persoalan ketimpangan dan konflik tanah di Indonesia. Namun, di balik agenda reformasi tersebut, terdapat sejumlah substansi yang dinilai berpotensi melemahkan perlindungan petani, masyarakat adat, dan korban konflik agraria. Dari persoalan redistribusi tanah hingga desain kelembagaan, tulisan ini mengajak pembaca melihat apakah reforma agraria benar-benar sedang membongkar ketimpangan atau justru berhenti pada penataan administratif.
Kategori: KOLOM
Airlangga Pribadi Kusman: Ketika Intelektual Memilih Berdiri di Sisi Republik
Oleh: Satrio Arismunandar (Lulusan S-3 Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia) Ada orang yang meninggalkan kita dengan jabatan. Ada yang meninggalkan nama. Ada pula yang […]
KAHMI, Kekuasaan, dan Kesalehan Publik
Oleh: Rorano Sore (Anggota Dewan Pakar MN KAHMI 2022-2027) Hari ini, Korps Alumni HMI (KAHMI) berusia 60 tahun. KAHMI lahir di Solo, pada momentum Kongres […]
REFORMASI HARI INI: BERJALAN LINGLUNG, SEMAPUT, ATAU TELAH MATI?
Refleksi September Hitam atas kemunduran demokrasi, kembalinya hegemoni militerisme di ruang sipil, dan panggilan tanggung jawab moral bagi kaum terdidik.
Syarat Pemimpin Teknokratik HMI: Perkuat Bahasa Nilai dan Kebijakan
Oleh: M Syauqi Asfiya (Aktivis HMI) Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pergantian generasi. Yang dibutuhkan adalah regenerasi kepemimpinan, yakni hadirnya generasi Muslim baru yang memiliki […]
Menuju HMI Teknokratik: Jalan Baru Kaderisasi untuk Masa Depan
Oleh: M. Syauqi Asfiya Anggota Pengurus Besar HMI Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Bandar Lampung seharusnya tidak berhenti sebagai momentum pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih […]
Kongres dan Peristiwa Pembusukan Politik HMI
Oleh: Abil Arqam (Direktur Utama LAPMI Sinergi) Kongres HMI ke-33 sebagai forum tertinggi organisasi akan digelar di Bandar Lampung akhir 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kongres […]
Relevansi Organisasi Kampus: Di Antara Algoritma TikTok dan Temaram Sekre (Catatan untuk Mahasiswa Baru)
Di tengah gempuran hustle culture, algoritma TikTok, dan tuntutan magang, mahasiswa baru dihadapkan pada satu pertanyaan krusial: Untuk apa masih repot-repot berorganisasi? Tulisan ini mengurai relevansi organisasi ekstra kampus yang tak lagi memegang monopoli atas ruang belajar mahasiswa.
Merawat Republik dari Tirani: Refleksi HUT RI ke-81 dan Panggilan Perlawanan Konstitusional
Oleh: Nuri Abdul Aziz (Sekretaris Umum HMI Cabang Yogyakarta) Hari ini, tanah air kita melangkah ke usia 81 tahun. Delapan puluh satu tahun yang lalu, […]
Mitos Cah Sleman Paling “Nyetel”, Nasib Tragis “Yu-Ai-Enn”, hingga Alienasi Warlok Terpelajar
“Benarkah Sleman lebih keren dari wilayah lain di DIY? Sebuah refleksi kritis warlok tentang komodifikasi gaya hidup, kasta kampus, dan krisis ruang publik.”
