Aksi Demonstrasi Terhadap Tiyo Di Bundaran UGM Diduga Libatkan Massa Bayaran dan Intruksi Pemalsuan Identitas

Sinergianews.id, Sleman – Sejumlah massa yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Peduli Demokrasi (Kompas Demokrasi) menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, pada Senin (8/6/2026). Aksi ini bertujuan untuk memprotes mantan Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, yang dinilai masih menggunakan nama dan representasi institusi UGM dalam berbagai forum publik di daerah.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan sejumlah poster bertuliskan “Tyo, Jangan Bawa Nama UGM”, “Tyo Tidak Mewakili Suara UGM”, dan “UGM Bukan Panggung Provokasi”. Beberapa peserta aksi juga terlihat berupaya menutupi wajah mereka dengan poster tersebut.

Ketua Kompas Demokrasi, Noel Gaston, sebagaimana dilansir dari Disway.Jogja.id, menyatakan bahwa aksi ini didasari oleh keprihatinan terhadap manuver Tiyo Ardianto di berbagai forum publik di luar daerah yang dinilai mengklaim representasi mahasiswa UGM. Selain itu, ia juga mengkritik keputusan Tiyo yang menyetujui perubahan BEM UGM menjadi Serikat Mahasiswa. Menurut Gaston, hal tersebut mengubah status kelembagaan BEM UGM sehingga tak lagi mempunyai landasan untuk menjadi representasi suara dan sikap mahasiswa UGM.

Cerita Seorang Mahasiswa Baru yang Dijebak untuk Ikut Aksi

Meskipun koordinator aksi mengklaim gerakan ini murni bentuk keprihatinan moral, hasil investigasi kami di lapangan menemukan adanya indikasi mobilisasi massa bayaran. Salah satu peserta aksi, Alex (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa baru dari Kampus A, mengaku diajak oleh rekannya dari salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampusnya. Ia diajak tanpa diberikan informasi yang utuh mengenai tuntutan demonstrasi tersebut.

Alex menjelaskan bahwa ia hanya diberikan narasi singkat bahwa aksi tersebut bertujuan untuk mengkritik kepemimpinan Tiyo Ardianto yang dinilai eksklusif dan memanfaatkan BEM UGM demi popularitas pribadi. Selain itu, ia juga tidak diberitahu bahwa selepas aksi, para peserta akan diberikan uang insentif.

Ketika berada di lokasi aksi, Alex tidak mengenal banyak orang di sana. Ia hanya mengenal beberapa orang di antaranya kader dan pengurus HMI Cabang Yogyakarta yang menjadi koordinator aksi tersebut. Karena menganggap bahwa aksi demonstrasi ini bertujuan baik dan telah dikonsolidasikan dengan matang, ia tidak mau menutup muka sebagaimana yang dilakukan oleh peserta aksi lainnya.

“Saat berada di sana saya tidak mau tutup muka, karena saya kira demo ini sudah dikonsolidasikan dengan baik dan tujuannya baik,” ujar Alex dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Instruksi Pemalsuan Identitas dan Pemberian Uang

Lebih lanjut, Alex mengungkapkan adanya instruksi dari pihak penyelenggara aksi agar para peserta melakukan pemalsuan identitas. Mereka diminta untuk mengaku sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian UGM jika ada pihak luar atau media yang bertanya.

Aksi yang terbilang berlangsung sebentar itu, mulai pukul 13.30 WIB hingga 14.30 WIB tersebut, ditengarai diinisiasi oleh sejumlah oknum yang merupakan kader dan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.

Dugaan transaksi finansial terbukti setelah aksi pembubaran massa. Alex mengaku diberikan uang tunai sebesar Rp100.000 setelah demonstrasi selesai, meskipun sejak awal tidak ada perjanjian mengenai kompensasi uang. Ia menegaskan tidak mengetahui sejak awal bahwa aksi tersebut merupakan demonstrasi berbayar.

Akibat keterlibatannya dalam aksi tersebut, Alex merasa dirugikan karena telah dijebak untuk ikut dalam aksi bayaran yang tuntutannya tidak jelas. Selain itu, wajahnya yang terlihat jelas di media sosial memberikan sanksi sosial terhadap dirinya dari rekan-rekannya sesama mahasiswa dan aktivis. Terkait hal ini, ia mengimbau kepada mahasiswa lain, khususnya mahasiswa baru, untuk lebih selektif dan kritis sebelum memutuskan terlibat dalam aksi massa.

“Pesan saya untuk seluruh mahasiswa, kita harus membaca situasi dan kondisi, jangan langsung terjun. Kita harus menganalisis lebih dalam terhadap aksi yang hendak kita ikuti!” pungkas Alex.

Image: Disway.jogja.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *