Oleh: Bagus Budiman, Pengurus LAPMI Sinergi HMI Cabang Yogyakarta (Menulis dinamika kaderisasi dan politik kampus dari balik meja redaksi)
Layar ponsel terus menyala di tengah temaram sekretariat organisasi ekstra kampus. Beberapa orang masih duduk mengelilingi meja. Sebagian sibuk membahas agenda berikutnya, sebagian mulai membuka ponsel, dan satu-dua orang mungkin sudah ingin pulang karena rapat kembali molor dari jadwal.
Pemandangan semacam itu cukup akrab bagi siapa pun yang pernah hidup di organisasi. Namun, yang berubah tak hanya kebiasaan mahasiswa. Yang berubah adalah sumber dari mana mereka belajar, membangun jaringan dan mempersiapkan masa depan.
Di luar sekretariat, kehidupan mahasiswa bergerak dengan ritme yang jauh lebih cepat. Di X dan TikTok, algoritma Career-Tok terus membanjiri linimasa dengan narasi hustle culture. Pertanyaan seperti “Mending aktif di ormek atau fokus magang berbayar dan berburu sertifikasi?” terus memicu perdebatan. Konten yang membandingkan “anak ormek” versus “anak magang/portofolio” dengan mudah melintasi FYP. Yang satu digambarkan dengan daftar panjang kepanitiaan, jatah jabatan, dan perdebatan wacana. Yang lain datang dengan portofolio proyek konkret, pengalaman kerja remote, pemanfaatan AI tools, hingga sertifikasi profesional yang punya dampak langsung terhadap nilai jual mereka di mata recruiter.
Di kolom komentar, perdebatan biasanya segera melebar.
Ada yang menganggap organisasi penting untuk membangun soft-skill dan jejaring. Ada yang merasa bertahun-tahun berorganisasi tidak menghasilkan apa-apa selain sertifikat dan pengalaman rapat sampai larut malam. Ada pula yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk magang, memperdalam keterampilan profesional, mengambil pekerjaan freelance, membangun proyek pribadi, atau mengejar pengalaman yang lebih konkret dan mudah dijelaskan kepada recruiter.
Keresahan itu tidak muncul dari ruang kosong.
Mahasiswa hari ini memang hidup dalam situasi yang membuat waktu terasa semakin mahal. Tuntutan untuk mandiri secara ekonomi dan mendapatkan kepastian masa depan datang dari berbagai arah. Kuliah tetap harus berjalan, tetapi pengalaman kerja juga perlu dibangun. Keterampilan perlu ditambah, sementara kebutuhan hidup tidak bisa menunggu sampai wisuda.
Lalu pertanyaannya menjadi sangat masuk akal:
“Kalau begitu, untuk apa masih repot-repot berorganisasi?”
Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan romantisme tentang masa muda, idealisme kaku, atau jargon kepemimpinan. Organisasi, khususnya ormek dengan segala dinamika ideologi dan politiknya, memang perlu berhadapan dengan pertanyaan itu secara serius.
Sebab kalau organisasi hanya menawarkan kesibukan tanpa hasil nyata dan pada akhirnya membuat anggotanya burnout, tentunya mahasiswa punya banyak pilihan lain.
Sekretariat sebagai Tempat Bereksperimen
Coba bayangkan seorang mahasiswa yang baru beberapa bulan masuk organisasi.
Awalnya ia mungkin hanya duduk di belakang ketika forum berlangsung. Mendengarkan orang lain berbicara, sesekali diminta menyampaikan pendapat, lalu pulang atau berbincang-bincang.
Beberapa waktu kemudian, ia diminta menjadi panitia. Setelah itu menjadi koordinator. Pada kesempatan lain, ia harus memimpin rapat karena orang yang seharusnya memimpin berhalangan hadir.
Tiba-tiba ia berhadapan dengan beberapa orang yang tidak sepakat dengannya.
Bahkan, ketidaksepakatan itu kerap bukan datang dari urusan proker semata. Dalam praktiknya, kepentingan organisasi ekstra kampus kadang ikut terbawa ke dalam gelanggang organisasi intra. Struktur yang seharusnya menjadi ruang pelayanan mahasiswa dapat berubah menjadi arena tarik-menarik pengaruh, terutama ketika momentum politik kampus seperti Pemilwa datang. Di titik ini, dinamika organisasi menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan teknis kepanitiaan
Ada yang keras kepala. Ada yang pasif. Ada yang terlalu dominan. Ada yang tidak mengerjakan tugasnya. Ada pula yang merasa idenya paling benar.
Ia harus menghadapi semuanya.
Di titik seperti inilah organisasi sebenarnya memiliki fungsi yang sering tidak terlihat dari luar yaitu organisasi dapat menjadi laboratorium eksperimen tanpa batas kurikulum.
Seorang mahasiswa bisa belajar memimpin forum tanpa harus menunggu mata kuliah kepemimpinan. Ia belajar bernegosiasi karena memang ada kepentingan yang harus dinegosiasikan. Ia belajar berbicara karena suatu saat tidak ada pilihan selain berdiri dan menyampaikan pendapat.
Bahkan kesalahan ketika mengeksekusi sebuah proker pun menjadi bagian dari proses belajar.
Proker yang gagal, koordinasi yang berantakan, keputusan yang ternyata keliru, atau konflik yang tidak berhasil diselesaikan dapat memberikan pengalaman yang berbeda dari apa yang diperoleh di ruang kelas.
Misalnya, ketika dana sponsor batal cair pada H-2 acara. Di ruang kelas, mungkin hanya studi kasus manajemen risiko. Namun di sekretariat, seorang mahasiswa dipaksa belajar berpikir jernih di bawah tekanan, menenangkan anggota divisi yang panik, dan memutar otak mencari dana talangan dalam waktu 48 jam tanpa panduan baku.
Pengalaman semacam ini memperlihatkan perbedaan penting antara organisasi dan ruang profesional. Di tempat kerja, seseorang belajar bekerja dalam struktur yang memiliki pembagian peran, target, dan garis tanggung jawab yang relatif jelas. Di organisasi, ia bisa berhadapan dengan orang yang secara formal bukan bawahannya, tetapi tetap harus ia ajak bekerja; atau dipimpin oleh orang yang tidak ia pilih dan mungkin tidak ia sukai. Ia tetap harus mencari cara agar pekerjaan selesai.
Organisasi memiliki medan belajarnya sendiri yaitu manusia.
Di sana, teori bertemu dengan karakter orang yang sebenarnya. Rencana bertemu dengan kepentingan. Gagasan bertemu dengan ego. Dan seseorang mulai mengetahui bahwa membuat orang lain bergerak menuju tujuan yang sama jauh lebih rumit daripada sekadar menyusun konsep di atas kertas.
Tidak Semua Pertumbuhan Terasa Menyenangkan
Masalahnya, pengalaman di organisasi tidak selalu menyenangkan.
Ada rapat yang berlangsung berjam-jam tetapi kesimpulannya tidak jauh berbeda dari pembicaraan satu jam sebelumnya. Ada senioritas yang membuat anggota baru malas bicara. Ada perebutan posisi. Ada konflik internal.
Tidak sedikit konflik internal yang akhirnya sulit dipisahkan dari tarik-menarik pengaruh tersebut. Ketika agenda konsolidasi organisasi mulai lebih dominan daripada kebutuhan riil mahasiswa, efisiensi program dan kepentingan anggota dapat kehilangan tempat. Mahasiswa yang tidak membawa afiliasi organisasi pun pada akhirnya ikut berada di tengah dinamika politik yang sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan mereka.
Kekecewaan di organisasi seringkali menjadi pelajaran pertama bahwa niat baik saja tidak pernah cukup untuk menggerakkan orang lain.
Dan pada suatu titik, seorang anggota mungkin mulai bertanya:
“Saya sebenarnya sedang berkembang atau hanya sedang sok sibuk?”
Pertanyaan itu penting.
Sebab pengalaman organisasi tidak selalu menghasilkan pertumbuhan melalui keberhasilan. Kadang justru melalui kekecewaan.
Seseorang mungkin masuk organisasi dengan bayangan bahwa semua orang di dalamnya memiliki idealisme yang sama. Setelah beberapa tahun, ia menemukan kenyataan yang berbeda. Ia mulai melihat bahwa manusia tidak sesederhana slogan yang ditempel di dinding sekretariat.
Ada kepentingan. Ada ego. Ada ambisi. Ada kompromi.
Ada orang yang berbicara tentang idealisme, tetapi mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri. Ada pula orang yang tidak banyak bicara, tetapi justru menjadi orang yang paling banyak bekerja.
Pada titik itu, seseorang mulai memahami bahwa organisasi bukanlah kumpulan manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Namun menjadi ruang tempat berbagai kepentingan, karakter, dan cara pandang bertemu.
Kecewa bukan berarti tidak belajar.
Justru dari sana seseorang dapat mulai memahami bagaimana manusia dan kelompok bekerja. Ia mulai memilah mana prinsip yang ingin dipertahankan dan mana kebiasaan organisasi yang tidak perlu dibawa ke luar.
Ketika Pembanding Ada di Mana-Mana
Persoalan menjadi semakin menarik ketika mahasiswa mulai melihat kehidupan teman-temannya di luar organisasi.
Ada teman yang sudah mendapatkan tempat magang. Ada yang sibuk menggarap proyek. Ada yang mulai mendapatkan pekerjaan freelance. Ada yang memperdalam desain. Ada yang mengembangkan kemampuan riset dan menulis. Ada pula yang membangun pengalaman profesional melalui berbagai proyek dan kegiatan di luar kampus.
Sementara dirinya masih duduk di sekretariat membicarakan agenda rapat berikutnya.
Perbandingan seperti itu hampir tidak mungkin dihindari.
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat terus-menerus di depan mata. Kita bisa melihat teman yang baru mendapatkan sertifikasi, diterima magang, mengerjakan proyek, mendapatkan pekerjaan, atau membangun usaha. Pada saat yang sama, kita juga melihat diri sendiri masih berkutat dengan persoalan internal organisasi yang rasanya tidak pernah selesai.
Dulu, organisasi menjadi salah satu sedikit ruang tempat mahasiswa bisa menemukan forum diskusi, membangun jaringan, mengasah kemampuan komunikasi, mengelola kegiatan, sekaligus bertemu dengan orang-orang di luar lingkaran pertemanan kelas. Kini ruang-ruang tersebut telah terpecah ke berbagai tempat.
Mahasiswa yang ingin membangun jaringan profesional bisa masuk ke LinkedIn. Mereka yang ingin belajar desain, riset, produksi konten, pemrograman, atau memanfaatkan AI tools bisa menemukan tutorial, kursus, dan komunitasnya sendiri. Mereka yang membutuhkan pengalaman kerja bisa mencari magang atau proyek freelance. Bahkan ruang diskusi dan komunitas tidak lagi harus menunggu sebuah sekretariat: forum digital dan komunitas independen bisa terbentuk hanya dari sebuah grup, server, atau akun media sosial.
Artinya, organisasi tidak lagi memegang monopoli atas pengalaman mahasiswa.
Dan justru karena monopoli itu hilang, alasan seseorang untuk bertahan di organisasi tidak bisa lagi berhenti pada kalimat bahwa organisasi menyediakan pengalaman, jaringan, atau ruang belajar. Pertanyaan berikutnya menjadi lebih sulit:
Apa yang diberikan organisasi yang membuat pengalaman tersebut layak diperjuangkan dibandingkan berbagai pilihan yang tersedia di luar sana?
Dari situ muncul pertanyaan yang cukup mengganggu:
“Apa yang sebenarnya saya dapatkan dari organisasi ini?”
Menurut saya, pertanyaan tersebut justru sehat.
Organisasi tidak seharusnya kebal terhadap evaluasi hanya karena memiliki sejarah panjang atau membawa nama besar tertentu. Keaktifan seseorang di organisasi juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa ia sedang berkembang.
Kalau seseorang merasa perlu magang, ia seharusnya bisa mengambil kesempatan itu. Kalau ingin memperdalam desain, riset, penulisan, produksi konten, komunikasi, atau keterampilan profesional lainnya, ia seharusnya punya ruang untuk melakukannya. Kalau ingin membangun usaha atau mengambil pekerjaan freelance, organisasi tidak semestinya menjadi penghalang.
Dan ketika seseorang akhirnya merasa bahwa organisasi tidak lagi memberikan ruang pertumbuhan, keputusan untuk pergi juga bukan sebuah dosa.
Kemampuan untuk mengatakan “ini tidak lagi cocok untuk saya” justru merupakan bagian dari proses mengenali diri.
Jadi, Apakah Ormek Masih Relevan?
Mungkin pertanyaannya memang perlu sedikit digeser.
Bukan lagi:
“Apakah organisasi ekstra kampus masih relevan?”
Melainkan:
“Organisasi seperti apa yang masih relevan bagi mahasiswa hari ini?”
Organisasi yang masih mengandalkan senioritas, hierarki kaku, rapat panjang tanpa hasil, dan romantisme masa lalu akan semakin sulit bersaing dengan berbagai ruang belajar yang tersedia sekarang.
Mahasiswa hari ini tidak kekurangan pilihan.
Mereka bisa belajar dari internet, mengikuti kursus, membangun portofolio, mencari pengalaman kerja, membuat komunitas sendiri, mengembangkan proyek, atau membangun jaringan profesional tanpa harus masuk organisasi formal.
Magang memberi pengalaman dalam struktur profesional.
Freelance memberi pengalaman menghadapi klien.
Portofolio memberi bukti atas kemampuan.
Organisasi memberi pengalaman menghadapi manusia dan kepentingan kolektif.
Karena itu, organisasi perlu menghargai waktu anggotanya. Maka organisasi itu perlu efisien, memberi ruang untuk bereksperimen, dan memungkinkan anggotanya tetap berkembang di luar organisasi.
Pada akhirnya, organisasi ekstra kampus tidak perlu memenangkan persaingan melawan TikTok, LinkedIn, magang, freelance, atau portofolio digital. Mereka berada di medan yang berbeda, meskipun sebenarnya dapat berjalan berdampingan.
Ada satu hal yang tetap sulit digantikan dari organisasi yaitu berhadapan langsung dengan manusia lain.
Di dalam organisasi, seseorang bisa menemukan bahwa dirinya ternyata tidak sebaik yang ia bayangkan. Ia bisa belajar meminta maaf, berkompromi, menolak, memimpin, mengikuti, bahkan pergi.
Semua itu tidak selalu menghasilkan sertifikat. Tidak semuanya bisa dimasukkan ke dalam CV.
Tetapi pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari proses seseorang mengenali dirinya.
Sekretariat tidak lagi bisa menjadi pusat dunia mahasiswa. Dunia itu sudah terlalu luas untuk dipusatkan pada satu ruangan, satu struktur, bahkan satu organisasi.
Karena itu, organisasi ekstra kampus tidak perlu memaksa mahasiswa memilih antara sekretariat dan dunia di luar sana. Justru organisasi harus mampu menjadi salah satu ruang yang membuat keduanya saling memperkaya.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan lagi berapa banyak rapat yang pernah diikuti, jabatan apa yang pernah dipegang, atau berapa sertifikat yang berhasil dikumpulkan.
Pertanyaannya jauh lebih sederhana
“Setelah saya berada disini, saya menjadi manusia yang seperti apa?”
Jika organisasi mampu membuat seseorang menemukan jawabannya melalui pengalaman nyata, maka temaram sekretariat itu belum benar-benar padam.
