Neuro-Duel: Membaca Perang Dahsyat Dopamin di Kepala Kita

Otak, anugerah tertinggi manusia untuk meraih impian, juga bisa menjadi racun yang menggerogoti hidup dan harapan. Otak adalah bagian paling penting bagi makhluk paradoksal bernama manusia. Ia berperan mengendalikan setiap langkah dan mempertimbangkan setiap keputusan. Peranti biologis inilah yang membawa manusia tak lagi sejajar dengan binatang. Keberadaannya mendatangkan banyak pertanyaan terkait apa yang bisa dan tidak bisa ia lakukan. Nama-nama besar dalam sejarah ilmu pengetahuan telah memenuhi lembaran waktu, menyibak tabir sang regnum mentis dan menyimpulkannya sebagai belati bermata ganda.

Saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan sebuah skenario: bayangkanlah sekelompok orang berada dalam sebuah mobil, hanya satu dari mereka yang bisa mengontrol dan mengendarai mobil. Mobil ini dapat membawa mereka ke mana saja, baik ke tempat indah atau bahkan yang suram. Kita semua berharap bahwa mobil itu dapat menggapai surga dunia, tetapi pilihan kembali kepada sang chauffeur. Jika sopir memiliki pengetahuan akan jalan-jalan yang menuju ke berbagai tempat yang indah, maka tibalah mobil di tempat yang menyenangkan dan mempesona. Sebaliknya, jika sopir hanya mengetahui tempat yang mengundang rasa sakit, penyesalan, dan keputusasaan, maka mobil akan sampai pada tempat yang kelam lagi menyeramkan. Namun, ada satu hal yang kita lewatkan: apabila sopir tak lagi tertarik akan dunia, maka mungkin jurang curamlah destinasinya.

Cerita di atas hanyalah gambaran singkat mengenai hal yang akan menjadi tujuan hidup manusia ke depannya jika tidak melakukan seleksi atas apa yang diolah akalnya. Dalam rubrik kali ini, penulis akan mengupas fakta di balik prosesor manusia: apakah sang penggerak utama di tubuh kita akan menjadi maestro yang membantu kita meniti jalan kesuksesan atau akan menjadi musuh yang menghambat dan mematikan?

Memahami Dopamin

Bahasan menarik di era modern ini adalah bagaimana bagian otak yang membuat manusia termotivasi bisa terbajak, kemudian menjadi sumber masalah bagi produktivitas. Dopamin, yang dikenal sebagai reward hormone, adalah alasan di balik mengapa kita merasa senang, termotivasi, dan depresi. Sebagai hormon, ia diproduksi tubuh secara alami. Terlalu sedikit dopamin dapat membuat seseorang mengalami apatis, stres, sulit fokus, sulit tidur, dan moody—bahasa trendi untuk menyatakan perubahan suasana hati yang mendadak.

Dopamin dalam jumlah yang sehat dapat membantu individu meregulasi emosi dan perasaan, meningkatkan fokus dan perhatian, serta memotivasi dan berorientasi pada tujuan. Secara nyata, dopamin adalah dalang di balik mengapa atlet rela melatih tubuhnya melampaui batas, ilmuwan yang berpikir keras dalam memecahkan masalah, sampai dalang di balik hamba yang rela bangun di sepertiga malam untuk beribadah pada Yang Maha Esa. Meski demikian, kelebihan dopamin dapat mendatangkan masalah bagi individu.

Ironisnya, pada abad ini, kita sedang menghadapi paradoks produktivitas: teknologi yang menjanjikan efisiensi malah memproduksi distraksi massal. Doomscrolling TikTok, streaming YouTube tanpa jeda, dan konten dewasa yang mudah diakses melalui media sosial mengisi otak dengan ledakan dopamin. Kebiasaan yang mendatangkan gratifikasi instan secara tak sadar telah membajak otak kita. Akibatnya, kebutuhan untuk berusaha dan bekerja keras tak lagi dianggap penting. Kemampuan untuk fokus dan mencapai tujuan jangka panjang menumpul seiring waktu. Pada akhirnya, molecula praemii yang didapatkan di waktu yang singkat dan jumlah besar akan bermuara pada kemalasan, gangguan tidur, kecanduan, dan “rebahan”.

Placebo dan Nocebo

Seorang dokter bisa saja memberikan Anda permen dan mengatakan bahwa yang di depan Anda adalah obat paling mujarab. Meskipun secara medis tidak ada satu kandungan di dalamnya yang bertujuan untuk mengobati keadaan, besok pagi Anda sudah terbangun dengan kondisi yang prima. Itulah placebo, di mana proses kepercayaan dan psikologis dapat memengaruhi diri. Sebaliknya, nocebo: jika Anda percaya bahwa permen di depan Anda adalah racun paling berbahaya, maka esok hari Anda akan terbangun dengan keadaan lebih parah.

Efek placebo dan nocebo menantang cara kita memandang pengobatan. Mereka mengingatkan bahwa komunikasi antara dokter dan pasien bukan hanya soal informasi, tapi juga soal harapan dan rasa aman. Kata-kata bisa menjadi obat, atau racun. Di era teknologi dan farmasi canggih, kita justru dihadapkan pada ironi: bahwa pikiran, bukan hanya molekul, bisa menentukan arah penyembuhan atau memperparah penyakit. Otak seakan perpanjangan tangan Tuhan, dapat menulis ulang fisika dan realitas.

Neuroplasticity

“Otak membuat kita dapat menyusun ulang takdir kita,” ujar Marian C. Diamond, Guru Besar Neuroanatomi University of California. Pernyataan lugas yang dapat disetujui sebagian kalangan—menganggap bahwa yang dimaksud pernyataan tersebut untuk anak kecil serta para pemuda—dan membuat beberapa dahi berkenyit tanda tak sepakat. Pertanyaan muncul setelahnya: “Apakah paruh baya juga bisa menyusun ulang takdirnya?” Jawabannya: BISA!

Neuroplasticity adalah kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sepanjang hidup. Benar, sepanjang hidup. Kemampuan otak kita tidaklah berhenti berkembang setelah kita melewati masa anak-anak atau remaja. Otak akan terus berkembang serta dapat dengan sendirinya membentuk koneksi-koneksi baru dan menyesuaikan saraf-saraf di dalamnya sesuai stimulus yang diberikan. Dengan kata lain, meskipun telah berusia senja, kita masih bisa mempelajari keterampilan-keterampilan baru seperti melukis, coding, atau bahkan belajar membuat sebuah robot. Tidak hanya itu, keterbatasan fisik juga bisa diatasi oleh otak kita.

Fenomena seperti orang buta lebih peka terhadap suara dan sentuhan, orang tak bertangan bisa dengan mudah menulis dan makan menggunakan kaki, bahkan seseorang bisa kembali berbicara dan beraktivitas pascastroke merupakan tugas yang diemban neuroplastisitas. Kenyataannya, neuroplastisitas berperan penting dalam setiap pembelajaran kita, membangun sinapsis baru untuk menunjang perubahan yang diinginkan.

Otak bukan sekadar organ biologis, ia adalah taman kesadaran yang terus tumbuh, tempat di mana kehendak dan harapan menanam benih perubahan. Di dalamnya, Tuhan menitipkan kemampuan untuk memperbaiki diri, untuk bangkit dari luka, dan untuk belajar mencintai hidup kembali. Otak adalah anugerah terbaik untuk manusia.

Oleh: Mahkamah Z. Bongso

Baca juga