Oleh: Nuri Abdul Aziz (Sekretaris Umum HMI Cabang Yogyakarta)
Lima Februari bukanlah sekadar rutinitas seremonial dalam kalender organisasi. Tanggal ini merupakan monumen kesadaran yang lahir di rahim Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta. Di tengah bara revolusi 1947, HMI muncul bukan sebagai pelengkap dekoratif dalam sejarah, melainkan sebagai tesis kritis atas kegelisahan masa depan umat dan bangsa.
Sebagai kader yang berproses di HMI Cabang Yogyakarta, kita memikul beban sejarah sekaligus kehormatan yang masif. Kota ini menjadi saksi bisu saat gagasan integrasi nilai Islam dan keindonesiaan diformulasikan secara organisatoris untuk pertama kalinya.
Intelektualitas sebagai Basis Eksistensi
Kelahiran HMI di lingkungan akademis mempertegas bahwa identitas fundamental kader adalah kekuatan intelektual. HMI tidak dirancang hanya untuk memobilisasi massa demi kepentingan pragmatis, melainkan untuk menghimpun pemikiran kritis yang mampu membedah tantangan zaman. Refleksi usia ke-79 ini seharusnya menjadi cermin retak bagi kita semua untuk mempertanyakan sejauh mana tradisi literasi dan dialektika intelektual masih menjadi denyut nadi organisasi.
Kita tak boleh terjebak dalam romantisme sejarah yang melenakan. Kebesaran HMI tidak diukur dari kejayaan para pendahulu, melainkan dari kontribusi nyata yang mampu kita berikan bagi bangsa saat ini.
Tujuan HMI yang tertuang dalam Pasal 4 AD HMI mengenai terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT merupakan kompas yang tidak boleh bergeser sedikit pun. Di tengah gempuran globalisasi dan disrupsi digital yang sering kali mencabut akar nilai, HMI wajib berdiri tegak sebagai organisasi independen yang hanya berpihak pada kebenaran objektif.
Masyarakat saat ini menuntut aksi nyata dan bukan sekadar parade retorika yang hampa. Kader HMI harus bertransformasi menjadi ‘Insan Pencipta” yang menawarkan solusi konkret atas carut-marut persoalan ekonomi, sosial, dan hukum di negeri ini.
Komitmen Cabang Yogyakarta
Memasuki usia ke-79, HMI Cabang Yogyakarta sebagai titik nol perjuangan organisasi berkomitmen untuk tetap menjadi motor penggerak perkaderan yang berkualitas. Kita harus menjamin bahwa setiap individu yang lahir dari rahim organisasi ini memiliki integritas moral yang kokoh sekaligus kedalaman ilmu yang mumpuni.
Perjalanan ke depan akan semakin terjal dan tantangan akan kian kompleks. Namun, selama semboyan “Yakin Usaha Sampai” masih terhujam kuat dalam sanubari, maka tidak ada badai sejarah yang tidak mampu kita lalui. Mari kita lanjutkan estafet perjuangan ini dengan penuh martabat.
Bahagia HMI. Jayalah Kohati. Yakin Usaha Sampai!

